Call Center 500005

Call Centernya anak kreatif, inovatif, dan positif...


Corporate sebaiknya segera mengoreksi dan memberikan pelatihan kepada seluruh petugas call center-nya dalam hal pemahaman produk secara komprehensif dan terkoordinasi. Tidak jarang, kita menemukan informasi yang berbeda antara satu petugas dengan petugas lainnya di call center yang sama. Info itu akan berbeda lagi jika dicocokkan dengan petugas di lapangan (ground staff). Hal ini tentu akan merugikan dan mengecewakan pelanggan. Sadarilah bahwa citra corporate terletak di ujung tombak pelayanannya yang bernama call center itu. Dan, karena informasi itu keluar dari badan resmi, corporate call center, pada umumnya pelanggan akan memegangnya sebagai sebuah kebenaran (das sollen), namun jika di lapangan ternyata berbeda (das sein), tentu corporate harus siap menerima gugatan tanpa reserve karena kesalahan murni di pihak corporate. Tingkatkan Product Knowlede

Corporate sebaiknya segera mengoreksi dan memberikan pelatihan kepada seluruh petugas call center-nya dalam hal pemahaman produk secara komprehensif dan terkoordinasi. Tidak jarang, kita menemukan informasi yang berbeda antara satu petugas dengan petugas lainnya di call center yang sama. Info itu akan berbeda lagi jika dicocokkan dengan petugas di lapangan (ground staff). Hal ini tentu akan merugikan dan mengecewakan pelanggan. Sadarilah bahwa citra corporate terletak di ujung tombak pelayanannya yang bernama call center itu. Dan, karena informasi itu keluar dari badan resmi, corporate call center, pada umumnya pelanggan akan memegangnya sebagai sebuah kebenaran (das sollen), namun jika di lapangan ternyata berbeda (das sein), tentu corporate harus siap menerima gugatan tanpa reserve karena kesalahan murni di pihak corporate. Pertemuan berkala dan situasional terutama jika ada produk baru dan diiklankan di media, harus segera digelar. Hal ini untuk menjaga akurasi, konsistensi dan informasi yang sistematis dan sistemik. Selain itu, pertemuan seperti itu dapat dijadikan sebagai ajang untuk menciptakan standard operational procedure (SOP) corporate bersangkutan. Manajer public relation atau yang terkait harus berinisiatif melakukan itu dan corporate harus menyiapkan seluruh keperluan untuk itu dengan memproyeksikan bahwa petugas di call center itu nantinya akan mengembalikan cost yang dikeluarkan dan pada gilirannya nanti akan berfungsi sebagai profit center buat perusahaannya dengan captive market yang setia.

Bicaralah Singkat, Padat dan Memikat

Hematlah bicara jika ditanya. Jawablah sesuai yang dibutuhkan dengan kalimat-kalimat yang pendek dan jelas. Pikirkan dan latihlah (hal ini bisa dilatih) untuk mengucapkan kata-kata yang akan dirangkai menjadi kalimat. Koleksilah diksi yang strategis. Artinya, kata yang diucapkan cukup dimengerti tanpa harus menghamburkan bunga kata secara berlebihan. Selain memberikan nuansa profesional dan mantap, kalimat-kalimat pendek akan membuat pelanggan tidak menanyakan hal-hal yang tidak urgen. Bukankah hal ini menghemat energi dan waktu untuk digunakan buat incoming callers lainnya? Dan tambahan lagi, jika menyampaikan sebuah prosedur, pakailah langkah-langkah numerik. Maksudnya, gunakan penomoran hirarkis (jika ada). Langkah numerik ini ditujukan agar callers menjadi lebih jelas akan tahapan-tahapan yang harus dilakukan. Perjelas dengan konfirmasi melalui afirmasi informasi kepada penelepon agar semuanya menjadi terarah, terutama untuk pelanggan yang memang sangat awam.

Bedakan Cara Melayani

Laki-laki dan perempuan adalah anugrah Ilahi yang berbeda dan penuh misteri. Mereka berbeda dalam fisiknya, struktur otaknya, minatnya dan kebiasaannya. Kompartemen otak, misalnya, laki-laki dan perempuan memiliki jumlah ruang yang berbeda. Laki-laki memiliki mono-compartment, sedangkan perempuan multi-compartment. Artinya, perempuan bisa melakukan beberapa kegiatan otak pada waktu bersamaan, sementara laki-laki sulit melakukan itu. Oleh karena itu, perempuan lebih suka kelebaran (topik beragam, tidak perlu rinci), sedangkan laki-laki lebih suka kedalaman (topik tunggal namun mendalam). Karenanya, call center harus mengantisipasi hal ini dengan memberikan penjelasan sesuai dengan jendernya. Untuk yang laki-laki cukup disampaikan garis-garis besar solusinya. Sementara untuk perempuan, informasi relatif lebih panjang dan beragam diperlukan.

Masih banyak sebenarnya hal-hal yang harus diperhatikan oleh Call Center dalam melayani incoming callers, namun dengan berpedoman pada pemaparan singkat dan praktis di atas, rasanya, kita sudah boleh bersiap-siap mendapatkan pelayanan yang lebih manusiawi, mantap dan profesional. Mesin suara tidak akan lagi berkata: "Jurusan yang anda tuju sedang istirahat, silahkan menunggu sambil beristirahat juga." Semoga tidak begitu!

Selengkapnya!

Hidup itu gila. kalau melihat hal yang tidak biasa dari setiap kejadian
Hidup itu perjuangan. kalau menjalaninya untuk suatu tujuan
Hidup itu kebahagiaan. Kalau bisa selalu bersama dengan orang yang disayangi
Hidup itu Lucu. Kalau melihat hal yang sangat biasa dari setiap kejadian Hidup itu indah. kalau tau cara nikmatinnya
Hidup itu susah. kalau setiap hari hanya mengeluh
Hidup itu gila. kalau melihat hal yang tidak biasa dari setiap kejadian
Hidup itu perjuangan. kalau menjalaninya untuk suatu tujuan
Hidup itu kebahagiaan. Kalau bisa selalu bersama dengan orang yang disayangi
Hidup itu Lucu. Kalau melihat hal yang sangat biasa dari setiap kejadian
Hidup itu Penderitaan. Kalau tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan
Hidup itu Sex. Kalau naluri yang menguasai pikiran
Hidup itu Cinta. Kalau memberi tanpa mengharapkan untuk kembali
Hidup itu Kebencian. Kalau hanya melihat noda hitam tanpa melihat putihnya
Hidup itu Hidup. Kalau menyadari arti kehidupan itu sesungguhnya

Selengkapnya!

Pelatihan Jardiknas n aplikasi kabarnya akan diadakan pada tanggal 29-30 april 2008,untuk semua agent masuk ke opice pada pukul 8.00 BBWI.
So buat agent dihimbau agar memaksimalkan kesempatan ini
...
Yaaa...moga-moga aja nggak molor lagee seperti minggu-minggu sebelumnya,amien

Selengkapnya!

MENJADI presenter dengan konsep pendidikan merupakan pengalaman menarik bagi Indra Herlambang, 32. Setelah melewati proses casting, pria kelahiran 16 Maret ini berhasil menjadi pemandu acara pelajaran bahasa Inggris di Televisi Edukasimilik Pusat Teknologi dan Komunikasi (Pustekom) yang ada dibawah naungan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). MENJADI presenter dengan konsep pendidikan merupakan pengalaman menarik bagi Indra Herlambang, 32.

Setelah melewati proses casting, pria kelahiran 16 Maret ini berhasil menjadi pemandu acara pelajaran bahasa Inggris di Televisi Edukasimilik Pusat Teknologi dan Komunikasi (Pustekom) yang ada dibawah naungan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).

Awalnya Indra mengaku kesulitan, tapi setelah dijalankan, dia merasa memiliki tanggung jawab yang besar saat membawakan acara yang mengulas pelajaran untuk siswa SMP tersebut. ”Bahasa Inggris kan bukan bahasa ibu, saya perlu persiapan yang baik sebelum syuting,” kata presenter Insert ini.

Namun, pria yang mengawali karier sebagai penyiar radio di Bandung ini, juga tidak menampik jika peran di acara tersebut banyak membantunya. ”Acara ini bukan sekadar tontonan, juga memberikan pelajaran yang akan diingat banyak orang.

Jadi kalau salah, repot juga,” tutur Indra yang sering berperan dalam acara komedi ini. Meski mengaku mendapat naskah dari Pustekom, Indra tak jarang memberikan tambahan soal materi yang akan disampaikannya.

Dalam acara tersebut, Indra mengupas berbagai teori bahasa Inggris berupa grammar, vocabulary, tenses yangdiselingi dengan games. Agar ilmu yang diberikan dapat diterima dengan baik, Indra tidak saja memperhatikan intonasi ketika berbicara.

Gaya santai pun dia tunjukkan dengan body language, ekspresi, dan wardrobeyang ia kenakan. ”Acara ini konsepnya belajar, tapi menyenangkan agar tidak terlihat seperti mengajar. Saya punya trik seperti itu,” tutur pria lulusan Desain Komunikasi Visual ITB ini.

Kemasan acara, menurut Indra, menjadi faktor penentu keefektifan acara tersebut. ”Saat ini banyak program pendidikan disiarkan di televisi, tapi saya melihat kemasannya kurang maksimal, jadi acara tersebut kurang mendapatkan perhatian,” kata Indra.(sri noviarni/MG-18)


http://www.seputar-indonesia.com

Selengkapnya!

SIAPA bilang tayangan televisi tidak bermutu dan hanya banyak memuat unsur hiburan.Tidak demikian dengan Televisi Edukasi(TV E).

Program televisi ini merupakan produksi Pusat Teknologi dan Komunikasi (Pustekom) Departemen Pendidikan Nasional. Pernah dengar belajar lewat televisi? Belajar melalui media televisi mempunyai atmosfer lain dibandingkan belajar di ruang kelas. Materi pelajaran yang ditayangkan beragam dan terbagi dalam tiga jenis, yakni pelajaran formal berbasis kurikulum, nonformal, dan pelajaran di luar sekolah atau kursus. SIAPA bilang tayangan televisi tidak bermutu dan hanya banyak memuat unsur hiburan.Tidak demikian dengan Televisi Edukasi(TV E).

Program televisi ini merupakan produksi Pusat Teknologi dan Komunikasi (Pustekom) Departemen Pendidikan Nasional. Pernah dengar belajar lewat televisi? Belajar melalui media televisi mempunyai atmosfer lain dibandingkan belajar di ruang kelas. Materi pelajaran yang ditayangkan beragam dan terbagi dalam tiga jenis, yakni pelajaran formal berbasis kurikulum, nonformal, dan pelajaran di luar sekolah atau kursus.

Dulu, TPI identik dengan program ini. Setiap hari, program yang ditayangkan TPIwaktu itu tidak jauh-jauh dari mata pelajaran. Namun, ketika era milenium datang, semuanya pun berubah.TPIperlahan-lahan mengurangi jatah siaran pendidikan. Namun jangan kaget, ternyata sampai saat ini,Anda masih bisa belajar lewat televisi.

Salah satu stasiun TV yang siaran pendidikan adalah Televisi Edukasi (TV E), program televisi produksi Pusat Teknologi dan Komunikasi (Pustekom) Departemen Pendidikan Nasional. Di Jakarta,rangkaian program TV E hanya bisa disaksikan lewat TVRIdan stasiun televisi swasta (Space Toon) dengan waktu tertentu. Di TVRI misalnya, tayangan ini hanya bisa disaksikan setiap hari Senin-Kamis pukul 07.15–09.30 dan 14.15–16.30 WIB.

Yang berisi materimateri siaran untuk siswa/i SMP,yang bermateri bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika. Waktu mengudara untuk menikmati siaran TV E di Space Toon malah lebih singkat lagi, yakni pukul 12.00- 13.00 setiap hari. ”Soalnya TV E memang dikhususkan bagi para siswa yang berada di luar kota terlebih lagi di pelosok daerah,”kata kepala Subbidang Teknologi dan Komunikasi TV E Kusdianto Hilman.

DI TV E, pelajaran yang ditayangkan adalah pendidikan formal berbasis kurikulum sesuai mata pelajaran, sedangkan program tayangan luar sekolah, yakni materi tata boga, tata rias, serta Paket A, B, dan C. TV E juga cukup pintar dalam meramu acara. Program yang ditayangkan tidak melulu berisi pendidikan.

Sebagai selingan, disiarkan tayangan sinetron seperti Laskar Anak Bawangdan Geng Lima. Kenapa hanya dikhususkan untuk daerah? Menurut Kusdianto, tujuannya untuk meningkatkan mutu pendidikan, terutama siswa di daerah terpencil seperti di Indonesia bagian timur.

”Karenanya, TV E hadir untuk menjawab permasalahan tersebut, ini hanya salah satu solusi, kami mengudara selama 24 jam penuh yang dapat ditangkap dengan parabola,” kata Kusdianto. Bagi mereka yang berada di daerah untuk mendapatkan siaran TV E ini terbilang mudah. Karena biasanya di daerah untuk menangkap siaran televisi memang harus menggunakan parabola.

Masih adanya televisi edukasi disambut positif oleh Ketua Komnas Anak Seto Mulyadi. ”Televisi edukasi mungkin bisa menjadi angin segar di tengah maraknya isu pendidikan.Terlebih lagi semenjak pemerintah memberlakukanstandarkelulusan ujian nasional merata di seluruh Indonesia.

Padahal, mutu pendidikan tidaklah sama di berbagai penjuru Nusantara, terutama di Indonesia bagian timur. Pria yang akrab disapa Kak Seto ini memaparkan selain cocok bagi pelajar yang berada di pelosok daerah, model pembelajaran melalui pesawat televisi ini dapat juga menjadi acuan bagi peserta home school maupun Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di berbagai wilayah. (sri noviarni)


http://www.seputar-indonesia.com/

Selengkapnya!
Subscribe to: Posts (Atom)